Generasi Rabbani dari rahimku

Rabu, 11 Mei 2011

Baju Anak Nafisha

 
 Di Jual Baju Anak :

Nafisha Rok Berlengan & Tanpa Lengan :
 Harga Eceran :
Ukuran S Rp. 15.000
Ukuran M Rp. 20.000
Ukuran L Rp. 25.000
Harga Grosir :
Ukuran S Rp. 10.000
Ukuran M Rp. 15.000
Ukuran L Rp. 20.000












Nasfisha Tali :

Harga Eceran Rp. 20.000
Harga Grosir Rp. 15.000
(Satu Ukuran = M)





Nafisha Rompi :
Harga Eceran Rp. 30.000
Harga Grosir Rp. 25.000
Satu Ukuran = L






 Nafisha Stelan (Atas Bawah)
Harga Eceran Rp. 25.000
Harga Grosir Rp. 20.000
Satu Ukuran = S
Nafisha Over All (Kodok)
Harga Eceran Rp. 30.000
Harga Grosir Rp. 25.000








Keterangan :
1. Untuk Harga Grosir minimal pemesanan 1 Lusin
2. Harga Belum termasuk ongkos kirim
3. Ukuran S = Untuk Anak Usia 0 - 1 Tahun ( 0 - 10 Kg)
    Ukuran M = Untuk Anak Usia 2 - 3 Tahun (12 - 15 Kg)
    Ukuran L =  Untuk Anak Usia 4 - 5 Tahun ( 16 - 20 Kg)
4. Informasi Lebih Lanjut hub : 
    Irma Nurlelasari di 022-70371142, online di YM irma.nurlelasari atau email ke irma.nurlelasari@yahoo.co.id,
5. Jika tertarik pesan ke  irma.nurlelasari@yahoo.co.id
6. Transfer ke BRI Syariah no. rek : 1002 289 373 an. Irma Nurlelasari

Jumat, 29 April 2011

Cerita Cinta Ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.


Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”


Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa


Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.


Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?


Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.


Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”


Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal…

Rabu, 27 April 2011

Tetaplah Tersenyum


Bila kondisi hari ini masih seperti kemarin di mana harapan belum menjelma menjadi nyata. Tetaplah tersenyum. Bukan berarti Allah mengabaikan doa-doa kita. Kita tahu, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
“Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya…” (QS Al mu'min:60).
Tak ada yang dapat meragukan janji-Nya. Doa kepada-Nya ibarat sebuah investasi. Tak akan pernah membuat investornya merugi. Karena penjaminnya adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dzat Yang Maha Welas Asih itu, tak akan pernah ingkar janji. Tidak akan sia-sia munajat yang kita mohonkan pada-Nya, baik di waktu siang apalagi di sepertiga malam. Ketika lebih banyak makhluk-Nya pulas, dalam dekapan dinginnya malam dan hangatnya selimut tebal.
Bila belum ada perubahan berarti tentang rencana-rencana kita, tetaplah tersenyum. Allah lebih mengetahui apa-apa yang baik untuk kita. Yakinlah, bahwa:
Allah Maha Mengetahui kapan sesuatu pas untuk kita, Jbaik dalam sisi timing maupun momentnya. Allah, Pencipta alam raya ini, adalah sutradara hebat, yang tidak akan membiarkan kita terpuruk dalam keburukan. Selama kita yakin akan kekuasaan-Nya, yakin akan kasih sayang-Nya.
Jika semua serasa mandeg, tak ada kemajuan berarti. Tetaplah juga tersenyum. Allah punya cara sendiri untuk membuat kita senantiasa dekat dengan-Nya. Mungkin, semua ini dibuat-Nya untuk kita agar kita senantiasa hanyut dalam sujud-sujud panjang di penghujung malam. Senantiasa larut dalam tangis penuh harap, dalam buaian doa-doa panjang nan khuyuk.
Semua tak akan tersia-sia begitu saja. Allah, mencatat setiap upaya yang kita lakukan dan doa yang kita panjatkan. Segala sesuatu yang kita perbuat, sekecil apa pun itu, akan menuai balasan di sisi-Nya kelak. Niatkan semuanya hanya untuk meraih ridha-Nya, agar perjuangan hebat ini tak hanya bermakna sementara. InsyaAllah kita akan memetik buahnya kelak, di waktu yang telah Ia tentukan.
Dunia ini fana. Tak ada yang kekal didalamnya. Pun perjuangan ini, pengorbanan ini, juga kesulitan ini. InsyaAllah, suatu hari nanti, harapan akan berbuah kebahagiaan. Akan menjelma menjadi kemudahan. Karena, sekali lagi, Allah telah menjamin:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah: 5-6)
“Allah pasti akan memberikan kemenangan atau mengadakan keputusan yang lain dari sisi-Nya.” (QS Al Maidah:52)
Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Tetaplah berharap sepenuh hati kepada-Nya. Tetaplah gantungkan asa setinggi apa pun itu, hanya kepada-Nya. Sekali lagi, hanya kepada-Nya.
“Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A'raf: 56)
“…Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87).
Dan, jika akhirnya harapan tidak menjelma seperti yang kita idamkan, tetaplah terus berbaik sangka kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Karena,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216).
Teruslah berjuang. Demi sebuah azzam yang dipancangkan untuk meraih ridho Ilahi Robbi.
Wallohua'lam bishshowwab. 
Dari : Ary Nur Azizah  

Minggu, 24 April 2011

Ketika Aku harus Memilih


Tidak ada seorang pun yang berharap pernikahannya akan selesai cepat. Tidak manusia yang ingin rumah tangganya berakhir sebelum waktunya. Sama sepertiku. Sampai kapanpun tak pernah terlintas dalam hatiku untuk mengakhiri pernikahan ini. Tapi aku belum bisa menerima ketentuan yang telah Kau beri, Tuhan.
                Saat hadir orang ketiga yang menarik perhatian suamiku. Saat datang orang baru yang mengalihkan pandangan suamiku. Saat itu aku memilih untuk mengakhiri kasih sayangku dengannya. Dan ketika aku harus memilih, ada orang – orang yang tersakiti. Anak – anakku. Buah hati kami. Belahan jiwa kami. Yang harus aku bawa sendiri menjauh dari ayahnya.
                Ketika aku harus memilih dan ketika aku harus mengorbankan dua bidadari cantikku Salwa dan Salma tumbuh jauh dari ayahnya. Sakit memang, tapi hidup adalah pilihan. Dan inilah jalan yang aku pilih. Kembali ke Bandung dengan membawa dua putri dan berstatus janda.
                Ayah Salwa mengambil jalan untuk berpoligami, tapi aku belum bisa mengaplikasikan ilmu itu sehingga aku memilih untuk bercerai. Hatiku belum terbuka untuk berbagi kasih sayang suami dengan wanita lain. Waktu itu aku belum bisa menerimanya. Dan mungkin sampai kapan pun, hati ini tak kan pernah bisa.
                Ayah Salwa sudah menikah lagi sebelum bercerai denganku. Setelah resmi, kemudian dia mengenalkannya sebagai maduku. Seperti mendengar petir yang menggelegar kencang, menghentak keras ke sudut hatiku. Membuat semua tubuhku membeku kaku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain terpaku karena  sakit. Kenapa harus menikah lagi? Apakah pelayananku kurang sebagai istri? Apakah aku belum bisa memenuhi semua kebutuhannya? Sedih dan marah bercampur dalam hatiku.
                Dia mengakui bahwa awalnya adalah khilaf. Mereka melakukan dosa sehingga maduku hamil sebelum menikah. Dan ayah Salwa harus bertanggung jawab. Alasan itu yang tidak bisa aku tolelir. Dan aku memilih bercerai.
                The show must go on. Aku harus tetap berjuang untuk anak – anakku. Karena itu setiba di Bandung, aku mencari kerja. Walau ayah Salwa juga tetap memberi kewajibannya untuk memenuhi semua kebutuhan anak – anaknya. Tapi aku pun tidak bisa berpangku tangan.
                Setelah bercerai aku berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan ayah Salwa demi anak – anak. Bagaimana pun dia adalah ayah dari anak - anaku dan sampai kapanpun tetap ayah mereka. Apalagi anak – anakku perempuan dalam menikah mereka membutuhkan ayahnya untuk menjadi wali.
                Tapi hal itu di tentang keluargaku, kakak dan adikku, mereka sangat membenci mantan saudara iparnya. Mereka benar – benar mengutuknya. Sampai – sampai mereka melarang Salwa dan Salma bertemu dengan ayahnya. Tapi tidak menurutku. Salwa dan Salma harus tetap merasa bahwa ayahnya masih ada. Dan masih bisa mereka temui. Walau tidak serumah lagi.
                Aku berusaha untuk tidak selalu menyakiti anak – anakku dengan pilihan yang sudah aku jalani. Jika ayahnya mengajak menginap bersama ayahnya selama liburan aku harus mengijinkannya. Kewajiban dan hak ayahnya tetap akan sama terhadap mereka.
Dengan statusku sebagai janda, saudara – saudaraku mencibirku. Bahkan mungkin menjauhiku. Aku harus tetap bisa bertahan untuk anak – anaku.
                Inilah jalan yang aku pilih dan apa pun yang aku dapat itu aku anggap sebagai balasannya. Aku tidak boleh menyesalinya. Aku harus tetap terlihat tegar dalam menjalaninya. Semuanya untuk anak – anakku. Bidadari – bidadari cantiku.
                Aku tidak bisa menyalahkan ayah Salwa karena aku percaya degan hukum sebab akibat. Hanya saja aku belum bisa membaginya dengan yang lain. Walau aku tahu bahwa dalam agamaku poligami itu di halalkan. Tapi ya Rabb, maafkan aku, pilihan itu terpaksa aku jalani. Karena kekurangan ilmuku.
                Aku hanya berharap anak – anakku mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih baik dariku, ibunya.
                Agar pilihan itu tak terjalani jika ilmunya sudah terpahami. Bahwa sebenarnya pintu surga itu ada di salah satu jalan yang sudah aku tinggalkan.
                Aku berharap pintu surga yang lain bisa terbuka untukku. Dengan mengurus dua amanah Allah dalam koridor yang sudah Allah buat.
                Harapanku yang lain saat jalan ini telah aku tapaki, bahwa saudaraku pun bisa memasukan aku kembali ke dalam hati mereka karena aku pun kini membutuhkan uluran silaturahminya.
                Rabb, maafkan aku yang telah memilih jalan ini. Dan ketika aku harus memilih, biarkanlah ridha-Mu mengalir untukku.


Kisah dari seorang teman yang tak pernah berhenti berjuang.