Tidak ada seorang pun yang berharap pernikahannya akan selesai cepat. Tidak manusia yang ingin rumah tangganya berakhir sebelum waktunya. Sama sepertiku. Sampai kapanpun tak pernah terlintas dalam hatiku untuk mengakhiri pernikahan ini. Tapi aku belum bisa menerima ketentuan yang telah Kau beri, Tuhan.
Saat hadir orang ketiga yang menarik perhatian suamiku. Saat datang orang baru yang mengalihkan pandangan suamiku. Saat itu aku memilih untuk mengakhiri kasih sayangku dengannya. Dan ketika aku harus memilih, ada orang – orang yang tersakiti. Anak – anakku. Buah hati kami. Belahan jiwa kami. Yang harus aku bawa sendiri menjauh dari ayahnya.
Ketika aku harus memilih dan ketika aku harus mengorbankan dua bidadari cantikku Salwa dan Salma tumbuh jauh dari ayahnya. Sakit memang, tapi hidup adalah pilihan. Dan inilah jalan yang aku pilih. Kembali ke Bandung dengan membawa dua putri dan berstatus janda.
Ayah Salwa mengambil jalan untuk berpoligami, tapi aku belum bisa mengaplikasikan ilmu itu sehingga aku memilih untuk bercerai. Hatiku belum terbuka untuk berbagi kasih sayang suami dengan wanita lain. Waktu itu aku belum bisa menerimanya. Dan mungkin sampai kapan pun, hati ini tak kan pernah bisa.
Ayah Salwa sudah menikah lagi sebelum bercerai denganku. Setelah resmi, kemudian dia mengenalkannya sebagai maduku. Seperti mendengar petir yang menggelegar kencang, menghentak keras ke sudut hatiku. Membuat semua tubuhku membeku kaku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain terpaku karena sakit. Kenapa harus menikah lagi? Apakah pelayananku kurang sebagai istri? Apakah aku belum bisa memenuhi semua kebutuhannya? Sedih dan marah bercampur dalam hatiku.
Dia mengakui bahwa awalnya adalah khilaf. Mereka melakukan dosa sehingga maduku hamil sebelum menikah. Dan ayah Salwa harus bertanggung jawab. Alasan itu yang tidak bisa aku tolelir. Dan aku memilih bercerai.
The show must go on. Aku harus tetap berjuang untuk anak – anakku. Karena itu setiba di Bandung, aku mencari kerja. Walau ayah Salwa juga tetap memberi kewajibannya untuk memenuhi semua kebutuhan anak – anaknya. Tapi aku pun tidak bisa berpangku tangan.
Setelah bercerai aku berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan ayah Salwa demi anak – anak. Bagaimana pun dia adalah ayah dari anak - anaku dan sampai kapanpun tetap ayah mereka. Apalagi anak – anakku perempuan dalam menikah mereka membutuhkan ayahnya untuk menjadi wali.
Tapi hal itu di tentang keluargaku, kakak dan adikku, mereka sangat membenci mantan saudara iparnya. Mereka benar – benar mengutuknya. Sampai – sampai mereka melarang Salwa dan Salma bertemu dengan ayahnya. Tapi tidak menurutku. Salwa dan Salma harus tetap merasa bahwa ayahnya masih ada. Dan masih bisa mereka temui. Walau tidak serumah lagi.
Aku berusaha untuk tidak selalu menyakiti anak – anakku dengan pilihan yang sudah aku jalani. Jika ayahnya mengajak menginap bersama ayahnya selama liburan aku harus mengijinkannya. Kewajiban dan hak ayahnya tetap akan sama terhadap mereka.
Dengan statusku sebagai janda, saudara – saudaraku mencibirku. Bahkan mungkin menjauhiku. Aku harus tetap bisa bertahan untuk anak – anaku.
Inilah jalan yang aku pilih dan apa pun yang aku dapat itu aku anggap sebagai balasannya. Aku tidak boleh menyesalinya. Aku harus tetap terlihat tegar dalam menjalaninya. Semuanya untuk anak – anakku. Bidadari – bidadari cantiku.
Aku tidak bisa menyalahkan ayah Salwa karena aku percaya degan hukum sebab akibat. Hanya saja aku belum bisa membaginya dengan yang lain. Walau aku tahu bahwa dalam agamaku poligami itu di halalkan. Tapi ya Rabb, maafkan aku, pilihan itu terpaksa aku jalani. Karena kekurangan ilmuku.
Aku hanya berharap anak – anakku mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih baik dariku, ibunya.
Agar pilihan itu tak terjalani jika ilmunya sudah terpahami. Bahwa sebenarnya pintu surga itu ada di salah satu jalan yang sudah aku tinggalkan.
Aku berharap pintu surga yang lain bisa terbuka untukku. Dengan mengurus dua amanah Allah dalam koridor yang sudah Allah buat.
Harapanku yang lain saat jalan ini telah aku tapaki, bahwa saudaraku pun bisa memasukan aku kembali ke dalam hati mereka karena aku pun kini membutuhkan uluran silaturahminya.
Rabb, maafkan aku yang telah memilih jalan ini. Dan ketika aku harus memilih, biarkanlah ridha-Mu mengalir untukku.
Kisah dari seorang teman yang tak pernah berhenti berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar