Di penghujung tahun 2008, peristiwa itu terjadi. Aku memang bahagia karena kehadirannya, tapi aku sedih melihat kondisinya.
Anak keduaku lahir prematur di usia kandungan baru 32 minggu. Itu berarti 6 minggu lebih cepat. Si cantik lahir dengan berat badan 1490 gram. Karena itu begitu lahir mujahidah kecilku harus masuk NICU.
Selain berat badannya yang kurang, ada beberapa organ tubuhnya yang belum matang. Seperti jantung dan paru – parunya belum maksimal dalam bekerja. Jenis kelaminnya pun belum tampak sempurna bahwa dia perempuan. Tapi dokter yang merawatnya meyakinkanku bahwa anakku seorang wanita.
Dia lahir lewat operasi caesar. Hal itu terjadi karena aku mengalami pendarahan hebat (riwayat kehamilanku plasenta prefia total) sehingga dokter melakukan tindakan segera agar aku dan anakku bisa selamat. Dan aku tidak menyangka hari minggu 21 Desember 2008 merupakan awal dari perjalanan panjang dalam menyambut kehadirannya dengan penuh kesabaran.
Tiga hari di RS AL Islam setelah kelahiran aku sudah dibolehkan pulang tapi tidak untuk anakku. Kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang. Karena dokter baru bisa membolehkan pulang dengan begitu banyak syarat. Diantaranya berat badannya harus sudah mencapai 2 kg. Si anak sudah bisa menghisap makanan sendiri, tidak dibantu dengan sonde lagi (sekarang asi yang diminumnya dipaksa masuk lewat selang kecil melalui hidung). Kondisi paru – paru sudah bekerja maksimal, jantung sudah berdetak normal. Keaktifannya pun harus sudah nampak. Mmmh …. Terlalu banyak hal yang harus anakku lakukan untuk bisa pulang.
Satu minggu dia menginap di RS Al Islam Bandung setelah itu pindah ke RSHS karena masalah biaya. Di Al Islam satu minggu perawatan di NICU sudah habis delapan juta. Selain masalah biaya juga, di RS Al Islam tidak boleh ada yang menunggu karena sudah ada perawatan maksimal.
Senin, 28 Desember 2008 putri kecilku dipindahkan tepat di jam 11 malam (konfirmasi ada kamar kosong dari RSHS baru datang jam 10 malam). “Maafkan kami anakku, kemampuan ummi dan abi hanya sebatas itu sehingga memaksamu untuk pindah di tengah malam”.
Anak keduaku lahir prematur di usia kandungan baru 32 minggu. Itu berarti 6 minggu lebih cepat. Si cantik lahir dengan berat badan 1490 gram. Karena itu begitu lahir mujahidah kecilku harus masuk NICU.
Selain berat badannya yang kurang, ada beberapa organ tubuhnya yang belum matang. Seperti jantung dan paru – parunya belum maksimal dalam bekerja. Jenis kelaminnya pun belum tampak sempurna bahwa dia perempuan. Tapi dokter yang merawatnya meyakinkanku bahwa anakku seorang wanita.
Dia lahir lewat operasi caesar. Hal itu terjadi karena aku mengalami pendarahan hebat (riwayat kehamilanku plasenta prefia total) sehingga dokter melakukan tindakan segera agar aku dan anakku bisa selamat. Dan aku tidak menyangka hari minggu 21 Desember 2008 merupakan awal dari perjalanan panjang dalam menyambut kehadirannya dengan penuh kesabaran.
Tiga hari di RS AL Islam setelah kelahiran aku sudah dibolehkan pulang tapi tidak untuk anakku. Kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang. Karena dokter baru bisa membolehkan pulang dengan begitu banyak syarat. Diantaranya berat badannya harus sudah mencapai 2 kg. Si anak sudah bisa menghisap makanan sendiri, tidak dibantu dengan sonde lagi (sekarang asi yang diminumnya dipaksa masuk lewat selang kecil melalui hidung). Kondisi paru – paru sudah bekerja maksimal, jantung sudah berdetak normal. Keaktifannya pun harus sudah nampak. Mmmh …. Terlalu banyak hal yang harus anakku lakukan untuk bisa pulang.
Satu minggu dia menginap di RS Al Islam Bandung setelah itu pindah ke RSHS karena masalah biaya. Di Al Islam satu minggu perawatan di NICU sudah habis delapan juta. Selain masalah biaya juga, di RS Al Islam tidak boleh ada yang menunggu karena sudah ada perawatan maksimal.
Senin, 28 Desember 2008 putri kecilku dipindahkan tepat di jam 11 malam (konfirmasi ada kamar kosong dari RSHS baru datang jam 10 malam). “Maafkan kami anakku, kemampuan ummi dan abi hanya sebatas itu sehingga memaksamu untuk pindah di tengah malam”.
Dimulailah penantian panjangku untuk sikecil.
Dari minum yang hanya 2 cc per tiga jam sekali hingga mencapai 40 cc aku lewati begitu berat. Dari berat badan 1490 gram sampai 1650 gram aku simak dengan lamat. Dua minggu aku lalui dengan kesabaran. Menunggu si cantik yang selalu tertidur lelap di dalam inkubatornya. Mengamati waktu yang terus berjalan setiap detiknya. Aku berharap dia merasakan kehadiranku setiap saat untuknya walau dia terlelap. Kondisi seperti apapun dia, tak kan pernah aku tinggalkan sejengkal pun dengan selalu berharap besok sudah boleh pulang.
Hatiku tersentak lagi dengan berat badannya tidak bertambah dalam tiga hari. Tetap bertahan di 1650 gram. Dokter Aris Permadi, SPAK yang merawat anakku menerangkan bahwa anakku harus di transfuse. Air mata jatuh lagi untuknya. Perjalanan ini ternyata masih panjang.
Dari minum yang hanya 2 cc per tiga jam sekali hingga mencapai 40 cc aku lewati begitu berat. Dari berat badan 1490 gram sampai 1650 gram aku simak dengan lamat. Dua minggu aku lalui dengan kesabaran. Menunggu si cantik yang selalu tertidur lelap di dalam inkubatornya. Mengamati waktu yang terus berjalan setiap detiknya. Aku berharap dia merasakan kehadiranku setiap saat untuknya walau dia terlelap. Kondisi seperti apapun dia, tak kan pernah aku tinggalkan sejengkal pun dengan selalu berharap besok sudah boleh pulang.
Hatiku tersentak lagi dengan berat badannya tidak bertambah dalam tiga hari. Tetap bertahan di 1650 gram. Dokter Aris Permadi, SPAK yang merawat anakku menerangkan bahwa anakku harus di transfuse. Air mata jatuh lagi untuknya. Perjalanan ini ternyata masih panjang.
Berjalan di antara lorong rumah sakit menuju bank darah untuk mengambil satu labu darah yang diperlukan anakku dalam langkah lunglai. Air mata tak henti berlinang. Aku pasrah ya Rabb. Kuatkan aku dalam menjalani semua ini.
Semakin lemas kurasa saat petugas bank darah menerangkan jika darah yang diperlukan kosong dan harus meminta ke PMI. Darahnya sama denganku B+, hanya saja aku tak bisa menolongnya karena aku pun baru di transfuse selesai operasi caesar kemaren, belum lewat satu bulan.
Dan ternyata di PMI pun kosong. Harus menunggu donor. Aku hubungi semua kerabat yang memiliki golongan darah sama. Berharap anakku tidak mendapat transfuse darah dari orang lain yang aku tak tahu asal usulnya.
Alhamdulillah, paman suami memiliki golongan darah yang sama dan beliau bersedia berdonor. Jam dua malam satu labu darah merah datang ke ruangan perawatan anakku. Masih bertuliskan Jana (nama paman si pendonor).
Anakku hanya membutuhkan 250 ml seperempat dari labu itu. Hanya setengah jam transfuse itu berlangsung. Wajah anakku berubah menjadi merah padam efek dari transfuse. Dua hari lewat dari transfuse, berat badannya bertambah jadi 1750 gram. Alhamdulillah.
Masuk di minggu ke lima, berat badannya sudah 1950 gram. Sonde di hidungnya sudah dilepas untuk mulai belajar minum susu lewat mulutnya. Kini aktifitasnya bertambah. Jika sudah dua jam belum ada yang memberinya minum, dia menangis. Jika tidak mengantuk tapi dia merasa kenyang, dia mulai bermain sendiri. Dokter menyarankan untuk keluar dari incubator dan tidur di box bayi biasa. Dua hari setelah itu, dokter membolehkan pulang.
Lima minggu menungguinya di rumah sakit dengan kondisi beberapa selang menempel ditubuhnya merupakan sebuah perjalanan panjang. Penantian yang selalu berharap segera selesai akhirnya sampai juga diujungnya. Nikmat yang luar biasa yang aku rasakan dalam ujian ini adalah saat semuanya berakhir.
Aku sudah pasrah dan berbesar hati jika memang dia akan diambil kembali oleh Allah. Tapi keyakinanku akan umurnya yang panjang muncul saat asi yang keluar untuknya begitu banyak. Karena aku yakin, Allah menciptakan manusia bersama dengan rizkinya. Allah tidak semata – mata menyuburkan asiku jika tidak ada yang akan memakannya. Karena itu aku yakin anakku akan selamat.
Di awal hidupnya, Rahma Nafisha Zahidah Ihsan sudah harus berjuang. Bayi seberat 1490 gram dipaksa merasakan tusukan jarum infuse yang silih berganti selama lima minggu menusuki tubuhnya.
Semoga perjuangan kami, orang tuanya lulus dalam ujian sabar dan syukur ini. Perjuangan mencari dana (meminjam ke segala sumber) untuk pengobatannya semoga membawa hikmah. Juga termasuk untuk mujahidahku, semoga sakitnya dapat membersihkannya dari akhlak yang kurang baik.
Semoga dengan takdirnya lahir premature menjadikannya sebagai pribadi yang indah. Indah fisiknya, indah hatinya (imannya), indah akalnya dan indah akhlaknya. Semoga dia menjadi muslimah yang kuat fisiknya, kuat imannya dan kuat hartanya. Amin.
Lima minggu menungguinya di rumah sakit dengan kondisi beberapa selang menempel ditubuhnya merupakan sebuah perjalanan panjang. Penantian yang selalu berharap segera selesai akhirnya sampai juga diujungnya. Nikmat yang luar biasa yang aku rasakan dalam ujian ini adalah saat semuanya berakhir.
Aku sudah pasrah dan berbesar hati jika memang dia akan diambil kembali oleh Allah. Tapi keyakinanku akan umurnya yang panjang muncul saat asi yang keluar untuknya begitu banyak. Karena aku yakin, Allah menciptakan manusia bersama dengan rizkinya. Allah tidak semata – mata menyuburkan asiku jika tidak ada yang akan memakannya. Karena itu aku yakin anakku akan selamat.
Di awal hidupnya, Rahma Nafisha Zahidah Ihsan sudah harus berjuang. Bayi seberat 1490 gram dipaksa merasakan tusukan jarum infuse yang silih berganti selama lima minggu menusuki tubuhnya.
Semoga perjuangan kami, orang tuanya lulus dalam ujian sabar dan syukur ini. Perjuangan mencari dana (meminjam ke segala sumber) untuk pengobatannya semoga membawa hikmah. Juga termasuk untuk mujahidahku, semoga sakitnya dapat membersihkannya dari akhlak yang kurang baik.
Semoga dengan takdirnya lahir premature menjadikannya sebagai pribadi yang indah. Indah fisiknya, indah hatinya (imannya), indah akalnya dan indah akhlaknya. Semoga dia menjadi muslimah yang kuat fisiknya, kuat imannya dan kuat hartanya. Amin.
Bandung, 21 Juli 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar